Ketika Negara Asia-Afrika Bersatu Melawan Dominasi Global
Jakarta, PANGKEP NEWS – Ketegangan global terus meningkat akhir-akhir ini. Di Amerika Serikat, kebijakan Presiden Donald Trump yang kembali menaikkan tarif impor menimbulkan kekhawatiran akan potensi perang dagang, terutama terhadap China.
Di Eropa Timur, konflik antara Rusia dan Ukraina tetap berkobar tanpa tanda-tanda akan mereda. Sementara itu, di Asia, ketegangan di Laut China Selatan serta aksi agresif Israel terhadap Palestina semakin memperburuk situasi global.
Di tengah situasi dunia yang tidak stabil ini, sejarah memberikan pelajaran berharga. Tepat hari ini, 70 tahun yang lalu, negara-negara Asia-Afrika mengguncang dunia dengan bersatu menghadapi kekuatan besar melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung.
Melawan Kekuatan Besar Dunia
Pasca Perang Dunia II (1939-1945), harapan akan perdamaian dunia masih jauh dari kenyataan. AS sebagai negara liberal-kapitalis berupaya memperluas pengaruh globalnya. Di sisi lain, negara-negara berpaham komunis yang dipimpin Uni Soviet juga memiliki ambisi serupa.
Ketakutan muncul saat kedua belah pihak dan sekutunya banyak melakukan neo-kolonialisme di berbagai wilayah. Kondisi ini menempatkan negara-negara bekas jajahan yang baru merdeka dalam tekanan tarik-menarik dua kekuatan besar dunia.
Negara-negara di kawasan Asia dan Afrika mulai mencari cara untuk melepaskan diri dari dominasi tersebut serta menentukan posisi mereka dalam konstelasi politik internasional. Dari kekhawatiran ini, lima pemimpin negara-negara bekas jajahan bersatu.
Mereka adalah Soekarno dari Indonesia, Jawaharlal Nehru dari India, U Nu dari Birma, dan Mohammad Ali dari Pakistan. Mereka sepakat membentuk kerja sama netral di antara negara-negara yang baru merdeka di tengah tekanan dunia.
Kesepakatan tersebut melahirkan konferensi besar di Bandung, yaitu Konferensi Asia-Afrika pada 18-24 April 1955. Sebanyak 29 pemimpin negara-negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung untuk berdiskusi mencari solusi dan persatuan melawan kekuatan besar.
Dalam pidatonya berjudul “Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru” (18 April 1955), Presiden Soekarno menyatakan bahwa KAA adalah cara untuk mencapai kesejahteraan melalui persatuan negara-negara Asia dan Afrika.
“Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera apabila mereka bersatu. […] Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia tentang jalan yang harus ditempuh untuk mencapai keselamatan dan perdamaian,” tutur Soekarno.
Di akhir konferensi, semua negara bersepakat dalam Dasasila Bandung. Isinya menekankan saling menghormati, bekerja sama, dan mengakui kemerdekaan satu sama lain. Salah satu poin Dasasila Bandung menyangkut kerja sama ekonomi antar negara Asia-Afrika.
Menurut dokumen “Final Communique of the Asian Afrika Conference” (1955), secara garis besar negara Asia-Afrika mengusung solidaritas ekonomi. Masing-masing harus saling membantu dan memberikan bantuan, mulai dari pelatihan, tenaga ahli, hingga proyek percontohan. Semua ini dilakukan agar tidak bergantung pada Blok Barat atau Timur.
Selain solidaritas, negara Asia dan Afrika juga harus berani mendominasi ekonomi global. Tujuannya agar harga internasional dan permintaan atas komoditas utama lebih stabil.
Negara anggota juga diwajibkan melakukan hilirisasi, yaitu mengolah barang mentah sebelum diekspor.
Tujuannya agar negara Asia-Afrika bisa mendapatkan keuntungan lebih dari negara-negara besar yang melakukan pembelian. Inilah sebabnya ketika KAA dilaksanakan, negara-negara dengan kekuatan besar dunia langsung menaruh perhatian pada Asia-Afrika.
Sejarawan Wildan Sena Utama dalam Konferensi Asia Afrika, 1955 (2017) menyatakan, KAA memiliki dampak yang luar biasa dibandingkan dengan perjanjian politik lainnya di panggung internasional pada pertengahan abad ke-20. Melalui KAA, negara Asia-Afrika tidak lagi dapat diremehkan.