Tombol Darurat Mendadak Diterapkan di Stasiun Kereta Api, Apa Tujuannya?
Jakarta, PANGKEP NEWS – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Kota Semarang kembali berupaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api. Kolaborasi ketiganya telah melakukan uji coba sistem tombol darurat di Perlintasan Sebidang Jalan Madukoro (JPL Nomor 6), Semarang, pada hari ini, Rabu (16/7/2025).
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya risiko kecelakaan di perlintasan sebidang yang masih menjadi titik rawan, terutama di daerah perkotaan dengan lalu lintas padat seperti Semarang. Dengan kecepatan kereta api yang kini dapat mencapai 120 km/jam, sistem keselamatan tambahan menjadi semakin penting.
Sistem tombol darurat ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu tombol darurat, panel kontrol, serta lampu dan sirene peringatan. Tombol ini ditempatkan di pos penjaga perlintasan dan terhubung langsung dengan sistem peringatan visual dan audio yang dipasang sejauh 1 km ke kiri dan kanan perlintasan.
Dalam kondisi normal, lampu indikator tetap mati yang berarti lintasan aman dilalui. Namun, jika tombol darurat ditekan, misalnya karena ada kendaraan mogok atau hambatan lain di jalur, maka lampu merah mulai berkedip disertai bunyi sirene. Ini memberikan sinyal kuat bagi masinis bahwa kondisi tidak aman dan perlu dilakukan pengereman darurat.
Desain sistem ini juga mempertimbangkan jarak pengereman optimal, sehingga masinis memiliki waktu yang cukup untuk menghentikan kereta dengan aman dan tepat waktu.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyatakan bahwa teknologi ini adalah bagian dari strategi besar KAI dalam memodernisasi sistem keselamatan.
“Melalui sistem tombol darurat, KAI ingin menyediakan solusi praktis dan terukur dalam mencegah kecelakaan. Ini merupakan langkah nyata kami untuk menghadirkan perjalanan yang lebih aman, selamat, dan andal,” ungkap Anne dalam keterangannya.
Lebih dari sekadar alat bantu teknis, kehadiran sistem ini menunjukkan bagaimana teknologi bisa memperkuat peran petugas jaga perlintasan dalam merespons situasi darurat secara cepat dan tepat.
Semarang dipilih sebagai kota uji coba karena mewakili kompleksitas lalu lintas perkotaan yang padat, dinamis, dan penuh interaksi antara moda transportasi. Dengan frekuensi perjalanan KA yang terus meningkat, sistem tombol darurat diharapkan menjadi standar baru yang bisa diterapkan di perlintasan-perlintasan lain yang berisiko tinggi.
KAI juga aktif bekerja sama dengan instansi pemerintah dan masyarakat untuk terus mengedukasi pentingnya disiplin berlalu lintas di perlintasan sebidang. Kampanye keselamatan baik secara daring maupun luring terus digencarkan agar kesadaran publik semakin meningkat.
“Keselamatan bukan hanya soal teknologi, tapi juga budaya. Maka kami terus berinovasi dan melibatkan semua pihak demi mewujudkan perlintasan yang lebih aman bagi semua pengguna jalan dan pelanggan kereta api,” tutup Anne.