Bantar Gebangnya Korea: Inilah Cara Busan Mengelola Sampah Menjadi Estetis
Korea Selatan dikenal sebagai negara dengan sistem pengelolaan limbah yang terdepan di dunia. Program pengelolaan sampah yang diterapkan di negara ini sangat efektif dan inovatif.
Di kota Busan, tepatnya di Saenggok Landfill, truk penggali dan ekskavator bekerja keras menangani limbah. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) ini sudah beroperasi sejak 1996 dan berfungsi sebagai lokasi penguburan akhir untuk sampah yang tidak dapat terurai, seperti plastik sisa pembakaran.
Dengan luas mencapai 257.000 meter persegi, Saenggok Landfill dapat menampung sampah hingga seluas 11.127.000 meter persegi. Menariknya, tempat ini tidak memiliki bau menyengat yang biasanya identik dengan sampah, berkat penerapan program pemilahan sampah yang efektif.
Busan Environmental Corporation (BECO), sebuah perusahaan publik milik pemerintah, bertanggung jawab dalam mengelola lingkungan dan pengolahan limbah di kota tersebut. Sebagai lembaga utama, BECO memainkan peran penting dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan di Busan.
BECO juga mengubah sampah menjadi karya seni yang unik. Hasil remahan sampah plastik dan limbah lain yang dapat didaur ulang diolah menjadi sebuah karya seni yang kemudian dipamerkan di Busan Resource Recycling Cooperation Center, yang berjarak hanya 5 menit dari Saenggok Landfill.
Di pusat daur ulang tersebut, terdapat sebuah patung lumba-lumba yang terbuat dari pecahan cangkang telur. Cangkang telur, yang tidak termasuk dalam kategori limbah makanan, harus didaur ulang. Selain itu, ada pula patung ikan paus yang dibuat dari sampah rumah tangga seperti plastik dan botol minuman.
Staf BECO, Kim Da Hye, memperkenalkan karya seni ‘The Starry Night’ milik Vincent van Gogh yang dibuat dari sisa-sisa isi staples dan bahan daur ulang lainnya. Karya-karya seni ini menunjukkan bagaimana pengelolaan sampah dapat menghasilkan sesuatu yang indah dan bernilai.