Jakarta – Sejarah Panjang Nusantara: Ratu Shima di Era Nabi Muhammad
Peradaban dan sejarah Nusantara sangat panjang. Catatan sejarah mengungkap keberadaan seorang tokoh Indonesia yang terkenal dan hidup pada masa Nabi Muhammad.
Tokoh ini adalah Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga. Sejarah mencatat dia dilahirkan pada tahun 611 M di Sumatera Selatan. Pada masa itu, Nabi Muhammad berusia 41 tahun dan baru setahun diangkat menjadi rasul.
Ratu Shima adalah putri dari seorang agamawan Hindu yang pindah ke Jepara setelah menikah dengan Kartikeyasinga dari Kerajaan Kalingga. Saat berada di Jawa, Ratu Shima tinggal di berbagai candi Hindu di kawasan Dieng.
Pengaruh Ratu Shima semakin kuat setelah suaminya, Kartikeyasinga, diangkat menjadi Raja Kalingga pada tahun 648 M. Pada saat Kartikeyasinga memerintah, Nabi Muhammad telah wafat dan Jazirah Arab memasuki periode kekhalifahan, tepatnya masa Khulafaur Rasyidin yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib (656-661 M).
Berdasarkan Sejarah Nasional Indonesia (2008), setelah suaminya wafat pada tahun 678 M, Ratu Shima yang sebelumnya adalah istri raja berubah menjadi penguasa tunggal Kalingga karena tidak ada penerus yang bisa memerintah, sementara anak-anaknya masih sangat kecil.
Selama masa pemerintahannya, Kerajaan Kalingga mencapai masa keemasan. Ratu bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara ini berhasil menjadikan Kalingga terkenal, terutama dalam bidang perdagangan.
Menurut Tradisi Pemikiran Islam di Jawa (2006), Ratu Shima berhasil mengembangkan pelabuhan Jepara menjadi pusat perdagangan dan tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai wilayah. Bahkan, Kalingga sudah menjalin hubungan dagang dengan Dinasti Tang dari China.
Berdasarkan naskah China kuno yang terhimpun dalam Catatan Tionghoa (2009), pedagang China yang berdagang di Kalingga menyaksikan kejayaan Ratu Shima. Mereka bersaksi bahwa Kerajaan Kalingga sangat makmur karena menjadikan garam sebagai komoditas ekspor.
Beberapa utusan Ratu Shima juga pergi ke China untuk menjalin hubungan dengan kaisar. Penduduk Kalingga juga sudah sangat maju dengan pengetahuan tentang aksara dan astronomi. Di Kalingga terdapat pusat agama Budha Hinayana, sehingga banyak penganut Budha belajar agama di sana selama bertahun-tahun.
Nama Ratu Shima menjadi terkenal hingga ke luar negeri, termasuk ke jazirah Arab yang saat itu tengah memasuki era kekhalifahan. Popularitasnya terkait dengan kebijakan ketat Ratu yang melarang pencurian di kalangan rakyatnya.
Pernah ada cerita tentang Raja Arab, Ta-Shih, yang penasaran dan datang ke Kalingga membawa karung emas untuk diletakkan di jalanan agar orang tergoda mengambilnya. Namun, setelah beberapa bulan, tidak ada yang mengambilnya. Ini membuktikan bahwa rakyat sangat takut dengan hukum Ratu Shima.
Akhirnya, ketika posisi karung emas bergeser sedikit karena putra kesayangan Ratu Shima, Pangeran Narayana, tidak sengaja menyentuhnya, Ratu Shima menerapkan hukuman tegas, yaitu hukuman mati.
Keputusan hukuman mati kemudian diubah menjadi pemotongan kaki, karena kaki dianggap bersalah karena menggeser karung emas. Sebagai hasilnya, kaki Narayana dipotong sebagai hukuman.
Ratu Shima meninggal pada tahun 695 Masehi. Kerajaan Kalingga runtuh pada tahun 752 M. Pada saat itu, Islam di Jazirah Arab telah berkembang pesat, dengan era Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 661-750 Masehi.